Kiri Hijau Kanan Merah #2-5

Deddy 'Gembul' tertawa lepas, memutar memori tentang hubungan asmara seorang seniornya di Universitas Brawijaya. "Nggak usah aku ceritakanlah, bagaimana curhatnya cewek-cewek Munir waktu itu. Siapa sih yang nggak tergila-gila dengan pejantan tangguh. Arab lagi," tandasnya. Tapi munir termasuk mahasiswa yang "telat mengenal perempuan". Kehidupan kampusnya dihabiskan di organisasi mahasiswa atau menjadi Sekretaris Al-Irsyad, sebuah organisasi sosial keagamaan di kampung halamannya, Batu, Jawa Timur. "Setahu saya, Mas Munir itu dari SMP sampai SMA ndak pernah pacaran," kenang Sugiono, kawan sekolahnya enam tahun. Hampir patut disimpulkan Munir adalah pecundang tulen, ketika nila-nilai di rapornya juga jeblok. Di SMP Negeri Batu (1980-1983), bocah ini ranking 187 dari 200 siswa. Di sekolah manapun, siswa yang "kurang bergaul ala muda-mudi" biasanya menjadi kutu buku dengan segudang prestasi. Tapi Munir? Gadis menjauh, prestasi pun, aduh! Nilai bahasa Inggrisnya tak pernah jauh-jauh dari angka 5 yang ditulis dengan tinta merah yang masih menyala, meski 26 tahun berselang. Di SMA Negeri 1 Batu, bekas guru atau kawannya memberikan kesaksian senada: Munir ndak pernah pacaran. Tapi rapornya ada peningkatan, mulai masuk 15 besar. Pendek kata, bila namanya tak muncul di media massa akhir 1990-an, nyaris tak ada yang mengingat Munir, karena bocah ini memang tidak menonjol di segi apapun. Lalu bagaimana seorang pecundang sejati tanpa pacar dan rapor pas-pasan, tiba-tiba jadi seorang petarung? Revolusi pemikiran macam apa yang bergema di relung-relung kesadarannya sebagai mahasiswa dan relawan pemula di LBH Malang? Mengapa Suciwati? film by WatchdoC @2009 Sponsored by KASUM

Comment

Your email address will not be published.

view : 544 2016/12/27
view : 634 2016/12/24
view : 703 2016/11/03
view : 3141 2016/10/09
view : 4414 2015/01/26
view : 3141 2016/10/09
view : 2345 2015/04/07

No data available

Connect With Watchdoc