Ambon, di Antara Luka dan Rumah Untuk Kembali

by
Perayaan Natal di Ambon saat ini nyaris tak ada masalah yang serius. Tak ada larangan ucapan selamat Hari Natal, apalagi pelarangan perayaan ibadah Natal. Saat malam Natal, di beberapa gereja seperti Gereja Maranatha, Gereja Silo, dan Gereja Katedral Fransiskus Xaverius, anggota Banser NU dan umat Hindu ikut menjaga ketertiban ibadah di luar gereja. Mereka bahkan memberi salam dan mengucapkan selamat saat umat Kristiani selesai ibadah malam Natal. Perayaan Natal di Kota Ambon juga disambut gembira oleh warga Ambon saat berlangsung pesta kembang api tepat pada pukul 00.00 WIT.

Tapi toleransi dan perdamaian bukanlah hal yang mudah didapat begitu saja bagi warga Ambon. 20 tahun yang lalu konflik besar terjadi di Ambon. Konflik bermula dari cekcok antara pemuda yang tinggal di Batu Merah dengan seorang sopir angkutan umum asal Mardika. Namun dibumbui dengan sentimen agama cekcok itu tak perlu waktu lama untuk kemudian menjadi konflik antar-kelompok agama. Antara tahun 1999 hingga 2002 tercatat setidaknya korban tewas mencapai 5 ribu jiwa dan 500 ribu orang mengungsi.

Namun, sejarah kelam itu kini telah selesai. Kota Ambon yang mendapat stigma sebagai kota yang tidak aman perlahan tumbuh menjadi sebuah kota yang ramah bagi warga lokal dan pendatang. Alasan untuk saling membunuh tak lagi ditemukan, berganti menjadi alasan untuk saling menjaga satu sama lain.
Pengalaman cerita kemanusiaan dibangun, orang-orang yang dulu saling menaruh curiga, kini saling melindungi. Narasi-narasi kecil perdamaian dibuat, mereka yang berbeda agama kini saling melengkapi di saat hari-hari besar.

Simbol-simbol rekonsiliasi terus dibangun, masyarakat Ambon terus berbenah menunjukkan kepada seluruh orang Indonesia dan dunia, bahwa Ambon atau Maluku secara luas, sudah aman dan damai. Kumpul-kumpul warga menjadi salah satu seruan perdamaian untuk menyelesaikan dan mejembatani kesenjangan di masa lalu.

Ruang-ruang bertetangga yang harmonis dihidupkan kembali dengan saling menyapa dan berkunjung. Latar belakang agama tak lagi dilihat, hanya rasa kemanusiaan yang dapat mengukurnya.
Watchdoc bekerja sama dengan Center for Religious and Cross-Cultural Studies–Universitas Gadjah Mada, dan Boston University, mencoba merekam kembali akar konflik di Ambon dan upaya masyarakatnya untuk keluar dari kekacauan melalui film Ambon: a return to peace.

Komunitas-komunitas pemuda menjadi garda terdepan untuk menyelesaikan akibat pasca konflik yang dihadapi oleh generasi penerus Ambon. Salah satu caranya adalah dengan storytelling yang dilakukan oleh para pemuda di Ambon kepada anak-anak yang tidak merasakan konflik.

Komunitas yang menamakan dirinya Jalan Merawat Perdamaian hadir untuk memecah segregasi wilayah pasca konflik. Kisah tentang perdamaian, kehidupan bertoleransi, serta hidup berdamai dengan manusia dan alam menjadi bahan cerita yang disampaikan melalui boneka anak-anak.
Komunitas-komunitas musik pun dihidupkan sebagai sebuah identitas kota yang membawa perdamaian. Kolaborasi musik dari Muslim dan Kristen menjadi pemecah batas dan jarak sekaligus memberikan gambaran bahwa orang Ambon rukun dalam beragama.

Basis-basis gerakan perempuan pun dibangun. Suara hati kaum ibu dianggap mampu meredam amarah kaum ayah yang tengah berkonflik. Gerakan Perempuan Peduli, menjadi cara lintas kultural sebagai upaya Ambon harus dibangun dalam kesadaran yang lebih terbuka.

Segregasi yang tercipta tak lagi mendapat tempat untuk diprovokasi. Ambon kini tumbuh sebagai tempat untuk hidup dan dihargai keberadaannya. Kebiasaan warganya yang saling mengunjungi menjadi upaya kritik terhadap pemerintah, yang focus membangun infrastruktur kota tanpa upaya pembangunan moral masyarakatnya.

Related Videos