Menyoal Para Pengguna Sepeda

by
Kendaraan apa yang Anda gunakan saat beraktivitas sehari-hari? Mobil atau motor? Transportasi umum seperti kereta atau busway? Atau Anda adalah pengguna sepeda?

Jalanan Ibukota semakin penuh persaingan. Data Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyebutkan, sedikitnya ada 1500 unit kendaraan baru di Jakarta setiap harinya di tahun 2018. Angka paling besar disumbangkan oleh sepeda motor yang mencapai 1200 unit, dan roda empat sekitar 300 unit.

Beragam alat transportasi berusaha berbagi ruang di tengah semrawutnya lalu lintas ibukota negara. Tiga jalur yang saat ini diperuntukkan untuk Trans-Jakarta, mobil, dan motor, harus kembali dipangkas untuk dijadikan jalur sepeda.
Pengadaan jalur sepeda ini dimaksudkan agar banyak orang beralih dari kendaraan bermotor menjadi menggunakan sepeda ke tempatnya beraktifitas. Program tersebut juga didukung dengan adanya Peraturan Gubernur DKI Jakarta No 128 Tahun 2019 tentang Penyediaan Lajur Sepeda.

Pemprov DKI melalui Dinas Perhubungan bahkan mengajukan anggaran sebesar 73,7 miliar rupiah pada tahun 2020. Anggaran itu untuk membangun jalur sepeda sepanjang 63 kilometer di lima wilayah di Jakarta. Sebuah mimpi untuk menjadikan wajah Ibukota menjadi tempat yang lebih ramah lingkungan.

Namun, niat baik itu tak selalu berjalan mulus. Kritik datang tak hanya dari mereka yang tidak menggunakan sepeda, tapi juga para pengguna sepeda itu sendiri. Adito Ari Nugroho, seorang Freelance Videomaker di Jakarta menceritakan bagaimana kesehariannya dalam menggunakan sepeda. Ia mengeluhkan kondisi beberapa jalur sepeda yang rusak dan justru diblokir oleh beton pembatas jalan.
“Kalau saya ke sana, harus angkat sepeda. Nanti di depan juga ditutup lagi. Angkat lagi, jalan lagi. Tutup lagi, angkat lagi. Begitu terus. Makanya, kadang-kadang meskipun agak bahaya, mendingan lewat jalur biasa, engga repot,” ujar Adito.

Keberadaan jalur sepeda berupa garis putih dengan lebar sekitar satu meter ini pun diuji secara bertahap. Namun, jalur sepeda masih saja terlihat kosong, hanya sedikit kaum pekerja yang beralih menggowes sepeda ke tempatnya bekerja. Kondisi jalanan tetap macet, sementara jalur sepeda sepi dari para penggunanya.

Ketersediaan ruang parkir bagi sepeda juga menjadi masalah tersendiri. Di beberapa fasilitas publik seperti stasiun kereta, ruang parkir sepeda bahkan tidak tersedia. Hal yang tentu bisa merugikan bagi para pekerja yang ingin menitipkan sepedanya seperti Adito.

Kritik serupa juga diungkapkan Rahmi, seorang pekerja swasta yang sehari-harinya menggunakan sepeda saat bepergian ke kantor. Meski jalur sepeda saat ini cukup banyak, tapi para pengguna sepeda tetap harus berbagi ruang dengan padatnya pengendara motor dan mobil di Jakarta.
“Harapan saya, kita sebagai pengguna jalan umum atau berlalu lintas itu saling menghormati, saling tahu hak masing-masing. Kalau fasilitas, saya rasa sudah cukup. Hanya ditambahkan sedikit marka jalan, biar orang aware jika ada jalur sepeda,” kata Rahmi.

Dari total 7000 km panjang jalan di Jakarta, yang telah disediakan marka khusus bagi sepeda baru 26 kilometer. Berbeda jauh jika dibandingkan dengan Belanda yang memiliki 245 km jalur sepeda untuk 100 ribu pesepeda setiap harinya. Sebuah mimpi bagi Adito, Rahmi, dan yang lainnya agar Jakarta menjadi lebih ramah kepada mereka yang menggunakan Sepeda.

Related Videos

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More