Naturalisasi vs betonisasi

by watchdoc

Benarkan Normalisasi(betonisasi) sungai jalan satu-satunya agar Jakarta terbebas dari banjir? Bencana banjir besar baru melanda Ibukota Jakarta yang bertepatan pada tahun baru 2020, salah satunya disebabkan oleh ketidakmampuan sungai-sungai menjalankan fungsi sebagaimana mestinya.

Sungai di Jakarta sudah semakin menyempit karna tumpukan sampah dan debit curah hujan yang semakin meninggi. Membuat air terus meluap dan tumpah membanjiri pemungkiman warga.
Untuk hal ini pemerintah Ibukota Jakarta sudah membuat normalisasi(betonisasi) sungai, apasih yang di maksud naturalisasi sungai?Normalisasi(betonisasi) sungai adalah metode yang dibuat pemerintah tentang penyediaan alur sungai dengan kapasitas yang mencukupi, terutama air yang bersih saat curah hujan di Ibukota cukup tinggi.

Fakta normalisasi(betonisasi) meluruskan bentuk sungai akan membuat aliran sungai semakin cepat. Daya dorong air akan semakin besar sehingga terdampak di sisi hilir.

Dengan adanya Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 31 Tahun 2019 tentang Pembangunan dan Revitalisasi Prasarana Sumber Daya Air Secara Terpadu tentang Konsep Naturalisasi(betonisasi).
lalu, apa bedanya dengan Naturalisasi sungai? Naturalisasi adalah upaya mempertahankan ekosistem alami di daerah aliran sungai, seperti adanya pepohonan, rerumputan atau yang lebih ramah lingkungan.

Konsep penataan naturalisasi(betonisasi) selain bertujuan menjaga ekosistem yang ada di pinggir sungai tetap hidup, juga menjadikan pinggiran sungai bisa menyerap air. Dengan kelokan sungai yang alami, kecepatan aåir semakin lambat, jalur hijau di sisi kiri dan kanan sungai memiliki kemampuan menyerap air.

Sedangkan, menurut Sudirman Asun salah satu pengamat dan aktivis Ciliwung bersih yang menjabarkan betapa Normalisasi(betonisasi) memperkeruh keadaan. Menurutnya hal ini tidak akan menyelesaikan masalah, dan akan menjadi kontradiktif. Pembetonan akan menghalangi resapan air daratan menuju air. Sedangkan adanya Naturalisasi akan memudahkan penyerapan air. Dan menginginkan tidak adanya Naturalisasi(betonisasi).
kemudian Sudirman Asun bertemu dengan Ibu Ratna salah satu warga RW 10-11-12 Bukit Duri yang terkena dampak banjir 2020  dan penggusuran akibat akan dibangunnya Normalisasi(betonisasi) pada tahun 2016.
Tanggul betonisasi buatan Pemprov DKI dan BBWSCC salah satunya berlokasi di Kali Ciliwung wilayah Bukit Duri RW 10-11-12.
Proyek betonisasi inilah yang menggusur warga Bukit Duri pada tahun 2016.

Bu Ratna mengatakan, “Adanya warga tidak berefek apa-apa, ada atau gak ada akan tetap banjir, warga bantaran kali akan terdampak banjirnya”

Penggusuran yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk membuat Normalisasi(betonisasi) terhadap warga Kampung Pulo dan Bukit Duri. Gugatan yang sudah dilakukan oleh warga Kampung Pulo dan Bukit Duri sudah mendapat kemenangan, tetapi sampai saat ini pemerintah belom mengganti semua kerugian akibat pengggusuran tersebut.
Dengan adanya normalisasi(betonisasi) tidak meminimalisir banjir.

Tak hanya itu, Sepanjang aliran yang akan diturap beton yaitu TB Simatupang-Manggarai, sebenarnya masih cukup didominasi oleh kebun warga yang cukup rimbun. Penurapan pinggiran kali dikuatirkan akan menghadangi sirkulasi hidrologi resapan air tanah. Padahal seharusnya Pemerintah seharusnya merevitalisasi wilayah riparian sungai di wilayah yang akan diturap. Termasuk mengembalikan flora dan fauna yang ada sebagai pendukung ekosistem Ciliwung.

Related Videos

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More