SUKU BAJAU JAYA DI BAWAH LAUT, HIDUP SULIT DI DARAT

by watchdoc
Berapa lama waktu yang Anda dapatkan saat menyelam dengan satu tarikan napas? 1 menit, 2menit, atau hanya beberapa detik?

Kebanyakan orang hanya bisa menahannya dalam hitungan detik. Tapi hal tersebut tidak berlaku bagi Suku Bajau.

Suku Bajau atau Suku Sama, dikenal sebagai suku pengembara yang menghabiskan waktu hidupnya di atas laut. Tersebar di seluruh perairan Malaysia, Filipina, hingga Indonesia, menjadikan Suku Bajau sebagai pelaut ulung yang menggantungkan hidupnya dari kekayaan laut di sekitar tempatnya tinggal.

Dikutip dari laman National Geographic Indonesia, Melissa Llardo, seorang kandidat doktor di Pusat GeoGenetika, University of Copenhagen dalam penelitiannya menyebutkan, Suku Bajau telah beradaptasi secara genetis agar bisa menghabiskan waktu lebih lama di dalam air. Hal itu dibuktikannya dengan mengamati dan tinggal bersama Suku Bajau di wilayah Jaya Bakti, Indonesia.
Llardo dalam penelitiannya menemukan, bahwa ukuran limpa orang-orang Suku Bajau 50% lebih besar dari pada milik manusia lainnya. Ia membandingkannya dengan limpa milik Suku Saluan yang mendiami salah satu wilayah di Sulawesi Selatan.

Limpa sendiri merupakan salah satu organ yang dinilai sangat penting dalam aktivitas menyelam. Organ limpa berperan dalam melepaskan lebih banyak oksigen ke dalam darah ketika tubuh sedang tertekan atau menahan napas dalam air.

Meskipun kuat di dalam air dan mampu mengekplorasi dunia bawah air dengan lebih leluasa, namun tak demikian dengan kondisi kehidupan nyata mereka di darat. Di masyarakat luas, Suku Bajau mendapat banyak stigma negatif. Suku nomaden yang gemar menghancurkan habitat ikan berupa karang dan hutan mangrove kerap lekat dengan identitas diri Suku Bajau. Selain stigma, Suku Bajau pun dengan fasilitas umum dan fasilitas social yang serba terbatas.
Menggantungkan separuh hidupnya pada hasil laut, tak membuat Suku Bajau di Torsiaje, Gorontalo lepas dari nilai-nilai leluhur yang dianut. Pola kehidupan kolektif yang dibangun dalam ruang-ruang yang terbatas di atas sebuah sampan, membuat mereka tumbuh sebagai suku yang tangguh di lautan.

Upaya negara melalui perangkat-perangkat desa dengan memberikan rumah di daratan, tidak membuat pola kehidupan Suku Bajau berubah dengan menggantungkan mata pencahariannya di darat. Mereka yang telah hidup di darat, tetap menjadi nelayan di tengah luasnya lautan.
Hal serupa juga dialami oleh Suku Bajau di Morombo, Konawe Utara. Meski pemerintah setempat telah memberikan tempat tinggal di darat, perjuangan hidup Suku Bajau tetap bergantung pada laut. Mereka bahkan harus bersaing dengan perusahaan tambang yang mulai mencemari ekosistem laut di sekitar ruang hidupnya.

Mata pencaharian sebagai nelayan, harus tergeser dengan adanya perusahaan tambang yang mengambil wilayah jelajah Suku Bajau. Lokasi tempat mencari ikan berpindah jauh di sudut-sudut pulau di tengah laut. Hasil laut yang tidak banyak itu kemudian harus bersaing di tangan para tengkulak. Suku Bajau menjadi suku yang tak hanya tangguh di laut, tapi dalam pola-pola kehidupan yang semakin dibatasi.***

Related Videos

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More